Sabtu, 05 Mei 2012

Peran SIG dalam Pembangunan Bangsa Indonesia


Peran SIG dalam Pembangunan Bangsa Indonesia
Kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat pesat pada era globalisasi, telah menyebabkan ketergantungan terhadap fungsi dan peran teknologi semakin tinggi. Semua negara sudah merasakan dampak dari globalisasi tersebut. Globalisasi telah menyebar keseluruh dunia dengan hasil teknologi yang telah mempengaruhi kehidupan masyarakat dunia dan menimbulkan perubahan yang sangat mendasar dalam tatanan hubungan antar bangsa ini yang lebih banyak dikendalikan oleh negara-negara maju, serta hubungan kerja sama yang terus meningkat terasa kurang seimbang.
Indonesia tentunya tidak dapat melepaskan diri dari globalisasi ini, bahkan harus dapat berperan untuk mengamankan kepentingan nasional.
             Dalam dekade terakhir-berkat SIG-penggunaan informasi geografis telah berkembang secara eksponensial. Saat ini penggunaan SIG telah terintegrasi ke dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi geospasial yang bekerja di belakang layar, telah membantu berbagai program seperti peningkatan energi, produksi pertanian, dan mengetahui neraca air. Pemetaan dan peta adalah fitur yang diharapkan ada pada sistem informasi berbasis web dan ponsel. SIG (Sistem Informasi Geospasial) mulai dikenal pada awal tahun 1980-an. Sejalan dengan berkembangannya perangkat komputer, baik perangkat lunak maupun perangkat keras, SIG berkembang sangat pesat pada tahun 1990-an. Secara umum SIG atau Geographic Information System (GIS), merupakan suatu sistem (berbasiskan komputer) yang digunakan untuk menyimpan , menganalisis objek-objek dan fenomena-fenomena dimana lokasi geografis merupakan karakteristik yang penting atau kritis untuk dianalisis. Dengan demikian SIG merupakan sistem komputer yang memiliki empat kemampuan berikut dalam menangani data yang bereferensi geografis yakni masukan, keluaran, manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan data), analisis dan manipulasi data. 
            Pengertian dari Sistem Informasi Geografi (SIG atau GIS) adalah sistem berbasis komputer baik perangkat keras maupun lunak dan prosedur yang dapat digunakan untuk menyimpan, memanipulasi informasi geografi (Stand Aronof, 1993).Sistem terpadu dengan menggunakan SIG sebagai alat belumlah cukup, dibanyak daerah telah menggunakan sistem informasi geografis yang canggih dengan peralataan dan data yang akurat, namun idealnya tidaklah cukup hingga sampai disini. Satu hal yang tak kalah pentingnya untuk dijadikan sebagai faktor penentu keberhasilan perencanaan lainnya adalah partisipasi.
Penataan ruang daerah merupakan bentuk rencana pengembangan wilayah , yang mempunyai peranan kuat dalam upaya mengatur ruang-ruang secara lebih efisien dan bernilai ekonomis di daerah. Adanya kebijakan baru dalam rangka otonomi daerah telah mengubah paradigma perencanaan tata ruang yang selama ini dilakukan. Perubahan-perubahan ini memberikan konsekuensi yang lebih besar dalam penataan ruang. Sebagai antisipasi untuk tantangan ini daerah haruslah memiliki perangkat yang valid untuk dapat mewujudkan perencanaan tata ruang yang bottom up dan terkoordinasi yang memang dibutuhkan pada desentralisasi seperti saat ini.
Penggunaan SIG atau GIS  juga digunakan dalam perencanaan dan pengelolaan pesisir yang terpadu atau Integrated Coastal Management (ICM) saat ini memerlukan ketersediaan data dan informasi yang akurat, objektif dan siap pakai serta mudah diakses dalam bentuk sebuah Sistem Informasi Geografis (SIG) atau Geographical Information System (GIS).
             Oleh sebab itu penggunaan SIG akan sangat membantu dalam proses ini. Disamping membantu untuk alat perencanaan, dengan model visualisasi akan jauh mempermudah para pengambil keputusan dan para perencana untuk mempertimbangkan aspek geografis dibandingkan dengan aspek sektoral semata.
Telah diakui bahwa Sistem Informasi Geografi (SIG) mempunyai kemampuan analisis keruangan (spatial analysis) maupun waktu (temporal analysis). Dengan kemampuan tersebut SIG dapat dimanfaatkan dalam perencanaan apapun karena pada dasarnya semua perencanaan akan terkait dengan dimensi ruang dan waktu. Dengan demikian setiap perubahan, baik sumber daya, kondisi maupun jasa-jasa yang ada di wilayah perencanaan akan terpantau dan terkontrol dengan baik.
          Bagi para perencana tata ruang, perencanaan yang berbasis daerah aliran sungai pada geografis tertentu dengan menggunakan teknologi GIS dapat dipakai sebagai alat bantu utama dan pertama ataupun sebagai identifikasi kebutuhan dan permasalahan di wilayah tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Akbar Roos, 2001, bahwa walaupun dimasa mendatang teknologi SIG sangat sesuai dipakai untuk memecahkan informasi di negara berkembang namun perlu diperhatikan bahwa SIG bukanlah tujuan. Peraturan yang kondusif dan kejelasan dalam menuju sebuah perencanaan tata ruang berbasiskan SIG mutlak diperlukan. Semakin banyak data/peta yang tersedia dalam format digital membuat pengembangan perencanaan berbasiskan SIG menjadi lebih mudah.Mengingat biaya terbesar adalah dalam membangun sebuah basis, baik itu kota ataupun wilayah. Sehingga tantangan kedepan adalah bagaimana membangun sistem yang berisi data yang selalu diperbaharui, dan sistem jaringan user mulai dari hulu hingga hilir bagi sebuah perencanaan wilayah.
            Penggunaan peta sangat bemanfaat untuk informasi. Termasuk juga penggunaan peta mengenai watershed based management. Beberapa keuntungan utama untuk menggambarkan daerah aliran sungai dan informasi lainnya melalui SIG : (Griffin, C .B, 1995)
            Disamping fungsi SIG untuk penentuan pengambilan keputusan dalam perencanaan tata ruang, juga dapat digunakan untuk tata ruang laut maupun kadaster laut. Segi tata ruang laut dan kadaster laut merupakan isu-isu yang relatif masih menjadi konsep baru dalam administrasi pertanahan. Konsep kadaster yang masih terus berkembang dan bergulir terus, serta tidak mustahil suatu saat nanti akan mempunyai kadaster udara (space cadastre) jika memperhatikan kemajuan teknologi, kebutuhan dan dinamika yang berkembang.  Dalam kadaster laut mempunyai pretensi yang sama sekali berbeda dengan kadaster darat. Contoh yang paling jelas dan nyata adalah tidak adanya batas fisik atau batas yang mampu dilihat di kolom dan di dasar laut. Dengan memperhitungkan volume, dimensi, kompleksitas iklim dan dinamika laut, hanya sebagian kecil dari dasar laut yang telah atau dapat kita lakukan untuk memetakannya. Jika posisi geografis diadopsi dilaut sebagai elemen fundamental dalam pembuatan data.
            Proses pembuatan atau pembangunan kadaster laut telah menyediakan kesempatan yang menantang bagi profesional di bidang survei dan pemetaan. Peran surveyor di laut secara fundamental menjadi berbeda, karena kebutuhan, dibandingkan dengan konsep tradisional yang telah diadopsi dalam pekerjaan pembuatan batas dan survei berbasis daratan. Meskipun berbeda, beberapa prinsip survei tetap sama, apalagi jika tidak diperlukan ketelitian istimewa yang mensyaratkan pengalaman survei yang istimewa pula. Perkembangan aturan perundang-undangan tentang batas wilayah laut dalam UU No 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah di Indonesia telah menciptakan peluang bagi surveyor untuk memperluas baik kemampuan maupun tingkat keahlian pelayanan survei yang dapat ditawarkan pada komunitas pengguna. Pada saat yang sama, operasi survei akan memfasilitasi investigasi dan pengkajianpotensi teknologi konvensional serta mengembangkan teknologi seperti Global Positioning System (GPS) dan Geographic Information System (GIS) untuk memecahkan permasalahan yang muncul pada saat aktivitas di pesisir laut dilaksanakan.
            Dalam Infastrukur Data Spasial yang dibangun diatas  konsep Sistem Informasi Geospasial (SIG), telah dimanfaatkan dalam banyak program dan proyek. Peran dan kemampuan kadaster darat telah diperpanjang menjadi sistem informasi yang mempunyai banyak sisi yang terus meningkat efisiensi pelayanan sekaligus menciptakan kemitraan yang dinamis antara organisasi swasta dan pemerintah. Sejalan dengan kadaster darat dan infrastruktur data spasial yang secara bertahap telah terasa semakin bermanfaat, terdapat dukungan yang berkembang menuju usaha untuk mengimplementasikan informasi manajemen dan sistem administrasi yang identik tersebut dilaut dan sekitarnya. Meskipun terdapat kenyataan bahwa manusia menghabiskan sebagian besar waktunya diatas tanah, kita sudah secara bertahap semakin sadar dan memperhatikan lingkungan laut. Oleh sebab itu peran ilmu geodesi dalam merencanakan , memanfaatkan dan mengolah data-data yang berkaitan dengan kemajuan perkembangan hidup sangat diperlukan. Dalam konteks ini peran ilmu geodesi dalam kehidupan nyata dapat tertuang di dalam penerapan SIG (sistem informasi geospasial).
            Selain manfaat-manfaat yang telah dipaparkan sebelumnya, sistem GIS atau SIG juga memiliki fungsi lain dalam kehidupan. Dengan menggunakan SIG berbasiskan web dan platform google maka program SIG ini dapat memiliki fungsi yang sangat berguna bagi pemadam kebakaran. Seperti yang kita ketahui di kota-kota besar yang sangat semrawut penataan tata letak wilayah dan persebaran pemukimannya memiliki peluang besar untuk mengalami bencana kebakaran, disadari atau pun tak disadari salah satu faktor penyebab kebakaran di kota-kota besar adalah tata letak ruang. Seringnya terjadi bencana kebakaran ini menyebabkan pihak pemadam kebakaran harus mengetahui secara pasti dimana titik-titik rawan kebakaran, titik-titik hydrant, jalur-jalur evakuasi, jalur-jalur penyelamatan yang mudah diakses menuju titik-titik rawan kebakaran tersebut dan lain-lain. Seluruh poin-poin tersebut menjadi standar bagi anggota pemadam kebakaran dalam melaksanakan tugasnya, namun dalam kenyataannya seluruh syarat ini belum dapat dipenuhi dengan baik namun pihak pemadam kebakaran mencoba untuk memenuhi syarat-syarat tersebut dengan cara pengelolaan sistem secara manual yang sangat sederhana menggunakan peta kertas dan peta dalam bentuk file citra kompresi (JPG).  Dengan sistem seperti ini patut dipertanyakan tentang informasi yang diberikan. Sebab dari data-data yang diberikan ini tidak memiliki data base sendiri dimana hanya menggunakan microsoft office excel untuk media penyimpanan database dari syarat ini. Data yang disimpan pun sebatas  daerah-daerah rawan kebakaran, letak hydrant, dan letak pos pemadam.
Melihat permasalahan ini, maka dalam penelitian yang dikembangkan sebuah sistem yang berbasiskan ruang (spasial) dengan cara membuat sebuah SIG yang berisikan persebaran daerah titik rawan kebakaran, lokasi-lokasi hydrant, pos pemadam kebakaran, rumah sakit dan kantor polisi. SIG berbasis web ini juga dirancang agar masyarakat dapat mengetahui apakah daerah sekitar tempat tinggalnya rawan kebakaran dan apakah disekitar tempat tinggalnya telah ter cover oleh jangkauan hydrant jika terjadi kebakaran.
            Bila dikaitkan dengan nilai-nilai pancasila, peranan kelimuan teknik terutama ilmu geodesi terkhusus pada penggunaan  sistem informasi geografis (SIG) berhubungan dengan, ke-3 dan sila ke-5, yakni pada bunyi sila ketiga  “Persatuan Indonesia” dan pada sila kelima  “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Dalam penjabaran mengenai nilai pancasila terutama sila ke-3 diatas dengan hubungannya terhadap peran SIG (Sistem Informasi Geografis) dapat dilihat jelas pada penggunaan SIG terhadap konsep pengaturan tata ruang, dalam pengaturan tata ruang ini tidak hanya dalam tata ruang darat namun juga terfokus terhadap tata ruang laut (pesisir). Dengan adanya konsep tata ruang ini secara otomatis lahan akan semakin tertata dan dan dapat dimaksimalkan hingga akhirnya akan terimplementasi pada persatuan dan kesatuan NKRI akan semakin terjaga dan akan terealisasikan sebab  tata ruang yang baik akan membuat setiap lapisan masyarakat semakin menyatu. Dalam konsep penggunaan SIG pun juga memiliki dampak positif yang besar dengan memberikan kesejahteraan bidang ekonomi terhadap ahli-ahli geodesi yang bekerja sebagai surveyor-surveyor dalam peran perencanaan  tata ruang pesisir dan kadaster laut. Lalu keterkaitan antara sila ke-5 dengan peran SIG dalam pembangunan bangsa ialah dalam hal pemerataan pembangunan dan penataan ruang wilayah. Tidak hanya berat di satu tempat saja sebuah pembangunan tapi pembangunan itu harus meluas dan merata keseluruh pelosok negeri, sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam nilai pancasila pada sila ke-5 yakni “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
            Berdasarkan fungsi-fungsi diatas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi geografis atau yang singkat SIG memiliki peranan besar dalam memajukan pembangunan bangsa ini. Penggunaan SIG ini juga tidak luput dari peranan ilmu teknik dan para lulusan-lulusan teknik yang profesional dibidangnya terutama dalam bidang teknik geodesi yang merupakan disiplin ilmu yang juga mempelajari dan mendalami tentang SIG ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

animasi bergerak naruto dan onepiece
My Widget